Selasa, 05 Juni 2012

Double Fertilization of Angiospermae

Setelah terjadi penyerbukan, atau menempelnya serbuk sari pada kepala putik, serbuk sari akan membesar karena mengabsorbsi cairan pada permukaan kepala putik yang lembab. Dengan absorbsi cairan yang mengandung gula dan zat-zat lain tersebut, serbuk sari akan berkecambah. Perkecambahan ini ditunjukkan dengan munculnya buluh serbuk sari.

Buluh serbuk sari tersebut akan memanjang dan mencari jalan melalui jaringan-jaringan pada kepala putik dan tangkai putik. Buluh serbuk sari tumbuh terus melalui tangkai putik. Setelah sampai pada puncak bakal buah, buluh serbuk sari mungkin masuk ovulum melalui mikropil atau melalui jalan lain. Jika buluh serbuk sari yang masuk ke dalam ovulum melalui mikropil disebut porogami. Jika buluh serbuk sari masuk ke dalam ovulum melalui kalaza disebut kalazogami. Jika buluh serbuk sari masuk ke dalam ovulum melalui funikulus disebut mesogami.

Setelah melewati dinding kantung embrio, buluh serbuk sari masuk ke dalam kantung embrio dan biasanya akan menghancurkan salah satu sinergid. Setelah serbuk sari membebaskan isinya ke dalam kantung embrio, satu gamet jantan bersatu dengan inti telur (singami) dan yang lain bersatu dengan dua inti kutub (fusi triple). 


·         Sumber: Reproduksi Generatif Tumbuhan Angiospermae oleh Budiwati.

Sistem Ekskresi

Sistem ekskresi mempunyai peranan pusat dalam homeostasis karena berfungsi dalam pembuangan limbah maupun keseimbangan air. Sebagian besar sistem ekskresi menghasilkan urin dengan cara menyaring filtrat yang diperoleh dari cairan tubuh. Fungsi kunci sebagian besar sistem ekskresi adalah filtrasi (penyaringan cairan tubuh dengan bantuan tekanan, yang menghasilkan suatu filtrat) dan produksi urin dari filtrat dengan cara reabsorbsi (pengambilan kembali zat-zat terlarut yang berharga dari filtrat) dan sekresi (penambahan toksin dan zat terlarut lainnya dari cairan tubuh ke filtrat). 

Sistem ekskresi yang beraneka ragam merupakan variasi dari suatu tema tubular. Cairan ekstraseluler difilter ke dalam protonefridia sistem sel api pada cacing pipih. Tubula itu mengekskresikan suatu cairan encer dan juga berfungsi dalam osmoregulasi. Masing-masing segmen cacing tanah mempunyai sepasa metanefridia yang berujung terbuka, yaitu tubuh yang mengumpulkan cairan selom dan menghasilkan urin encer untuk ekskresi. Pada serangga, tubula Malpighi berfungsi dalam osmoregulasi dan pembuangan linbah bernitrgen dari hemolimfa. Serangga menghasilkan buangan yang relatif kering, yang merupakan adaptasi penting untuk kehidupan darat. Ginjal, organ ekskretoris vertebrata, berfungsi baik dalam ekskresi maupun dalam osmoregulasi.


Nefron dan pembuluh darah yang terkait merupakan unit fungsioal ginjal mamalia. Tubula ekskresi (yang terdiri atas nefron dan duktus pengumpul) dan pembuluh darah terkait membungkus ginjal. Masing-masing nefron terdiri atas kapsula Bowman, yang mengelilingi sebuah bola kapiler yang disebut glomerulus, tubula proksimal, lengkung Henle, dan tubula distal. Cairan dari beberapa nefron mengalir ke dalam duktus pengumpul dan melewatkan urin ke dalam reseptakel pusat ginjal, yaitu pelvis renal. Ureter akan mengirimkan urin dari pelvis renal ke kandung kemih. Aliran darah ke nefron melalui arteriola aferen, yang terbagi-bagi menjadi kapiler glomerulus. Suatu arteriola eferen akan membawa darah menjauhi kapsula Bowman dan terbagi lagi menjadi kapiler peritubuler yang mengapit tubula proksimal dan tubula distal. Vasa rekta adalah system kapiler yang mengaliri lengkung Henle. Nefron mengontrol komposisi darah dengan cara filtrasi, sekresi, dan reabsorbsi.

Dari filtrat darah menjadi urin. Zat-zat yang diserap kembali dari filtrat dalam tubula proksimal meliputi sebagian besar garam dan air yang difilter dari darah, dan glukosa serta asam amino (dengan cara transport aktif). Obat-obatan, ammonia, dan ion hidrogen (untuk pengontrolan pH tubuh) secara selektif disekresikan ke dalam filtrate. Saluran menurun lengkung Henle permeable terhadap air tetapi tidak terhadap garam. Air bergerak melalui osmosis ke dalam cairan inteerstisial yang hiperosmotik itu. Garam berdifusi keluar dari filtrat yang dipekatkan ketika bergerak melalui saluran menaik lengkung Henle yang permeable terhadap garam. Sekresi dan reabsorpsi oleh tubula distal memainkan peranan kunci dalam pengaturan konsentrasi kalium dan pH darah.

Kemampuan ginjal mamalia untuk menghemat air merupakan suatu adaptasi terrestrial yang utama. Duktus pengumpul, yang permeable terhadap air tetapi tidak permabel terhadap garam, membawa filtrat melalui gradien osmolaritas ginjal, dan lebih banyak air keluar melalui osmosis. Urea juga berdifusi keluar dari tubula dan bersama dengan garam membentuk gradient osmotic yang memampukan ginjal menghasilkan urin yang hiperosmotik terhadap darah.

Sistem saraf dan perputaran umpan-balik hormonal mengatur fungsi ginjal. Osmolaritas urin diatur melalui system saraf dan kontrol hormonal reabsorpsi garam dan air dalam ginjal. Hormo antideuritik (ADH) meningkatkan reabsorpsi air oleh tubula. Renin yang dibebaskan oleh aparstus jukstaglomerulus (JGA), memicu pembentukan angiotensin II, yang selanjutnya menyebabkan arteriola berkonstriksi dan kelenjar adrenal untuk membebaskan hormon aldosteron. Aldosteron merangsang reabsorpsi Na+ dan aliran pasif air dari filtrat. Baik ADH maupun sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) menghasilkan reabsorpsi air dan urin yang lebih pekat. Faktor natriuretik atrial (ANF), yang dibebaskan oleh dinding atrium jantung sebagai respon terhadap peningkatan tekanan darah, menghambat pembebasan renin dan melawan kerja RAAS.

Sumber: Campbell, Neil A., Jane B. Reece dan Lawrence G. Mitchell. Biologi Jilid III. Jakarta: Erlangga.

Siklus Hidup Bryophyta


Siklus hidup lumut mengalami pergiliran generasi. Satu diantara kedua generasi itu adalah gametofit, yaitu suatu individu multiseluler dengan sel-sel haploid; generasi yang lain adalah sporofit, yaitu suatu individu multiseluler dengan sel-sel diploid. Gametofit menghasilkan gamet haploid yang nantinya akan menyatu membentuk zigot. Gametangium jantan dikenal sebagai anteridium, menghasilkan sperma berflagela. Gametangium betina dikenal sebagai arkegonium, menghasilkan satu telur (ovum) untuk setiap arkegonium. Zigot berkembang menjadi sporofit diploid. Pembelahan meiosis pada sporofit, selanjutnya, menghasilkan spora haploid, yang membelah secara mitosis menghasilkan generasi gametofit berikutnya. Pada lumut, gametofit, atau generasi haploid, adalah tahapan yang umumnya dapat kita lihat langsung.

Lumut daun adalah briofita yang sesungguhnya terdiri dari banyak tumbuhan yang tumbuh dalam kelompok yang padat, yang saling menyokong satu sama lain. Masing-masing tumbuhan yang ada dalam hamparan melekat pada substrat dengan menggunakan rhizoid. Sebagian besar fotosintesis terjadi pada bagian atas tumbuhan, yang memiliki banyak tambahan seperti batang dan seperti daun. 


Sebagian besar spesies lumut daun memiliki gametofit jantan dan betina yang terpisah, yang secara berturut-turut memiliki anteridium dan arkegonium. Setelah sperma berenang melalui lapisan tipis yang lembab sampai ke suatu arkegonium dan membuahi telur, zigot diploid akan membelah secara mitosis dan berkembang menjadi suatu sporofit embrionik di dalam arkegonium. Selama tahapan perkembangan berikutnya, sporofit itu tumbuh membentuk suatu batang panjang yang muncul dari arkegonium, tetapi dasar sporofit itu tetap menempel pada gametofit betina. Pada ujung batang terdapat sporangium, yaitu kapsul tempat pembelahan meiosis terjadi dan spora haploid berkembang. Ketika penutup sporangium membuka, spora akan menyebar. Spora akan berkecambah melalui pembelahan mitosis, membentuk protonema kecil berwarna hijau. Protonema haploid itu terus tumbuh dan berdiferensiasi, dan akhirnya membentuk gametofit yang dewasa secara seksual, yang menyelesaikan siklus hidup lumut daun.

·         Sumber: Biologi Jilid 2, Erlangga oleh Campbell, Reece dan Mitchell.